Entri Populer

Sabtu, 17 September 2011

To Cipongkor With Love SISI KEHIDUPAN ANAK YATIM DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

Mendapatkan bantuan dari PYI bagi anak yatim non mukim merupakan kebahagiaan tersendiri yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tak saja sang anak, namun orangtuanya pun turut merasakannya. Itulah bukti, manakala bantuan itu benar-benar diterima oleh anak  yang layak menerimanya.http://bayarzisonline.com/index.php/panduan-zis/42-berita-kegiatan/121-to-cipongkor-with-love.html

Kendati keberadaan PYI atau Panti Yatim Indonesia itu ada di Kota Bandung namun untuk daerah terjauh pun telah terjangkau. Kendati baru lima orang anak yatim non mukim yang terdaftar tetapi kawasan Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat pun telah merasakan bantuan itu. Setidaknya untuk menempuh lokasi tersebut membutuhkan waktu sekitar 2-2,5 jam menggunakan kendaraan roda empat.
Siang itu hujan membasahi desa tersebut, tetapi Empati terus melewati jalanan desa yang basah. Yang hendak ditemui adalah Nengsih dan Sadudin, anak kelas 6 SD Cikawung yang mendapat bantuan non mukim dari PYI. Awalnya segurat kekecewaan terpancar karena yang hendak ditemui tak ada. Sesaat kemudian Allah mempertemukan kami di sebuah rumah yang sederhana yang terdapat seorang anak yatim. Ya, Sadudin itulah yang dua tahun lalu menjadi anak yatim.
“Ya beginilah keadaan kami. Ibu tak bisa memberikan yang istimewa, paling hanya air putih saja untuk tamu. Semoga tak membuat kapok ya,” ujar Nengsih, Ibu Sadudin membuka pembicaraan siang itu dengan kami.
Wanita itu lalu bercerita, ia merasa bersyukur dengan ada bantuan 3 bulan sekali dari PYI. Ia menuturkan suaminya Jali meninggal 2 tahun lalu saat menginjak usia 43 tahun. Jelas ini membuat beban hidupnya bertambah berat. Tetapi ia tak putus asa. Kendati harus menghidupi tiga anak laki-lakinya, ia tetap tegar menjadi buruh tani yang penghasilannya tidak menentu.
“Bantuan dari PYI dengan 3 kg beras, lima bungkus mie instant dan uang 50 ribu, bagi saya itu patut disyukuri. Terus terang, dari tetangga pun ada bantuan alakadarnya termasuk dari desa. Tetapi bantuan bagi anak yatim non mukim ini sangat membantu. Kalau beras dan mie bisa dimakan dengan kakak-kakaknya, sedangkan uangnya untuk Sadudin bahkan Lebaran kemarin, alhamdulillah bisa dibelikan untuk baju Lebarannya. Betul-betul saya tertolong dan Sadudin sangat bergembira dengan hal itu,” tutur wanita itu yang baru saja pulang dari Pengajian.
Sadudin termasuk anak polos dan sederhana, siang itu ia baru terbangun dari tidur. Namun itu membuat kami semakin yakin, sasaran kami tidak salah karena memberi bantuan untuk anak yang memang benar-benar membutuhkan .”Memang sih kalau ada rezekinya bantuan itu sebaiknya ditambah, terutama uangnya karena kebutuhan sekolah anaks aya tidak sedikit. Tetapi bila tak bisa, saya juga sudah bersyukur dengan kondisi ini. Semoga saja para donatur mau semakin besar menyisihkan hartanya untuk anak-anak yatim,” pinta wanita yang harus terjun ke kebun pagi-pagi sekali.
Sejenak Empati terdiam dan berpikir, bagaimana jika anak-anak seperti mereka terutama yang di pelosok pedesaan tidak terpantau oleh lembaga-lembaga yatim piatu di perkotaan. Tentu saja bisa jadi semakin sulitlah mereka meraih cita-citanya. Andri dan Yudi rekan kami dari PYI berujar, apakah mesti kita perlu membentuk Tim Khusus Pemburu Anak Yatim ? Mengapa tidak, Kang ? ujar Empati. Ya mudah-mudahan pimpinan PYI mau merealisasikannya. “Ya, iyalah kan untuk kebaikan itu harus selalu diutamakan. PYI itu kan bukan sekedar Panti Yatim Indonesia tetapi Pasukan Yakin Ilahi. Tak ada yang mustahil di mata Allah,  bukan ?” ujar Empati kepada mereka. Koswara yang mendengar obrolan kami berkata, setuju kang dan kalau bisa harus diwujudkan dalam waktu dekat ini.
Pertemuan dengan Sadudin dan Ibu Nengsih berakhir. Sejenak kami menikmati suguhan lotek, asin peda, sambal dan lalap di rumah mertua Kang Koswara. Jazakumullohu khoiron katsiro. Insya Allah segala kebaikan keluarga di sana dibalas Allah dengan rezeki yang berlipat ganda. Terima kasih untuk isteri Kang Koswara dan ketiga anaknya yang telah menemani perjalanan Empati dan memberikan inspirasi yang sangat berarti.
Kemudian kami dipertemukan dengan sebuah keluarga sederhana. Mendatanginya cukup unik, melewati jalanan pedesaan yang terjal yang harus dilewati mobil namun untuk jalan kaki ternyata sudah terpasang paving block. Wah asyik banget, pikir Empati.Keluarga tersebut menyambut kamid engan begitu ramah.
Pak Ohan didamping isterinya Komariah, sang pemilik rumah itu. Kemudian ia bercerita, dirinya lebih dari sekali menikah tetapi dengan yang isteri yangs ekarang belum dikaruniai anak. Allah mengamanahi anak dari adik isteri Anih (alm) yang diberi nama Ayang Saipul Jamil (9) hasil pernikahannya dengan Dadan yang kini menetap di Bogor. “Terus terang setelah ditinggal sang Ibu, Ayang tak pernah diperhatikan ayahnya. Sesekali memang selalu bertemu tapi sepertinya sang ayah tak memiliki perhatian serius kepada anaknya. Saya iba melihatnya dan saya bertanggung jawab untuk mengurusnya, sebab siapa lagi yang akan mengurusnya kalau bukan kami berdua,”ujar Pak Ohan dengan penuh rasa iba.
Ohan pun menuturkan bantuan dari PYI kendati secara ukuran tidaklah terlalu besar namun untuk anak seperti Ayang adalah ibarat setetes air di padang tandus. Terlebih di daerahnya tak ada yang memperhatikan anak itu. Ohan berujar pula, jika melihat jajannya saja, ia pun tentu merasa ngiris karena sehari harus ada 15 ribu, sedangkan ia bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tak menentu. “Ya mungkin anak itu nasibnya tidak beruntung.
Sang anak yang masih polos menjadi perhatian Empati. Tak ada kesan penderitaan dari gurat wajahnya. Ia senang saja dengan kehidupan yang tengah dijalaninya. Ia tersenyum dan terkesan lucu. Tatkala PYI mengajak untuk dibawa Ke Bandung. Jawabnya “Ah pami ka Bandung jauh. Wios  we didieu oge. Abdi  mah tos betah didieu. Engke wae mun pere, urang hayang oge ulin ka Bandung,” (Ah Ke Bandung itu jauh. Saya sudah merasa betah di sini. Nanti saja kalau libur, saya juga ingin main ke Bandung, pen).
Paling tidak, PYI telah menggoreskan kepedulian untuk anak-anak yatim yang berada jauh di Kabupaten Bandung Barat yang terpencil dari keramaian kota. Yang terpenting adalah meneteskan kepedulian yang berarti bagi anak-anak itu bukan sekedar pemberian materi yang saat itu habis. Kasih sayang adalah segalanya. Anak-anak itu boleh jadi tidak beruntung tetapi kitalah yang harus membuatnya menjadi orang yang beruntung. Dengan cinta angkatlah mereka untuk meraih cita-citanya. To Cipongkor With Love (Menuju Cipongkor Dengan Cinta).*** (ABI NEILA)

0 komentar:

Posting Komentar

twitter